Sejak keluarnya distro Linux pertama di tahun 1993, puluhan distro telah dibuat dan diedarkan di seluruh dunia. Puluhan distro muncul tiap tahun, puluhan lainnya punah atau membeku (tidak diupdate lagi). Sejak munculnya distro komersial pertama, puluhan perusahaan mulai mencoba menjual barang gratisan ini, dengan berlomba-lomba menghias distro buatannya dengan tool-tool konfigurasi yang lebih mudah digunakan, sistem installer yang lancar, dan kelengkapan paket software yang ditawarkan. Sejarah mencatat, distro yang hari ini populer dua-tiga tahun ke depan bisa saja meredup bahkan punah (Corel Linux...anyone?). Sebuah distro ternyata tidak cukup menjadi distro terbaik atau termudah atau terlengkap, kadang-kadang konsistensi pun diperlukan. Tak selamanya distro yang di dukung perusahaan besar pun tak selamanya bertahan tanpa mempunyai sikap yang jelas. Sebaliknya, distro yang hanya didukung oleh komunitas dan bersifat nonkomersial pun bisa lama bertahan.
Perkembangan sistem operasi Linux di Indonesia, terutama sejak milenium baru banyak melahirkan distro-distro berbahasa Indonesia, atau setidaknya distro Linux 'buatan' komunitas IT Indonesia. Untuk diagram sejarah perkembangan asal-usul distro GNU/Linux Indonesia, bisa dilihat di situsnya Mas Made. Berikut ini daftar distro Linux Indonesia yang sempat dirilis (beberapa link mungkin down):
Kita mengenal virus sebagai ancaman terhadap komputer kita, namun sesungguhnya virus hanyalah salah satu bentuk dari apa yang disebut malware. Malware, secara umum, adalah program yang bersifat merusak komputer. Malware dibagi atas: virus, worm, trojan horse, spyware, backdoor, dan dialer/downloader.
Kesadaran akan hak cipta atau kekayaan intelektual (HaKI) khususnya di bidang komputer/informatika di Indonesia sudah mulai nampak. Masih segar di ingatan kita gonjang-ganjing seputar diberlakukannya UU Hak Cipta tahun 2003 yang lalu yang diikuti aksi sweeping di warnet-warnet. Beberapa aksi penangkapan terhadap pelaku pembajakan dan pengguna perangkat lunak bajakan yang sempat disidangkan cukup memberikan efek kejutan (shock therapy) bagi masyarakat Indonesia, khususnya pengguna komputer yang selama ini terbiasa menggunakan perangkat lunak tanpa memperhatikan kehalalannya.