Sepuluh tahun lalu, orang akan bertanya-tanya, apakah software seperti Linux yang merupakan Free abnd Open Source Software akan bertahan lama. Tidak ada makan siang gratis, kata mereka. Barang gratisan seperti Linux hanyalah mainan para opreker dan tidak akan pernah menjadi solusi enterprise. Siapa yang berpikir bisa berbisnis Linux pasti perlu diperiksa (otaknya). Bisnis IT yang waktu itu dikuasai perusahaan besar (dan tertutup) seperti Microsoft, IBM, Oracle, Sun, dan Novell pasti akan memakan Linux hidup-hidup. Dan sekarang, hanya Microsoft yang bertahan dari godaan open source. Sun Microsystems menginisiasi sejumlah proyek berawalan Open, mulai OpenOffice, OpenSolaris, sampai (akhirnya) Open JDK (Java). Oracle merilis Oracle Enterprise Linux. IBM adalah salah satu kontributor open source terbesar, dengan anggaran jutaan dollar. Novell malah menghentikan pengembangan NetWare, yang dihajar habis-habisan oleh Windows NT/Server, dan menggantungkan masa depannya pada Linux, yang dibeli dari SUSE (sekalian perusahaannya).
Perkembangan sistem operasi Linux di Indonesia, terutama sejak milenium baru banyak melahirkan distro-distro berbahasa Indonesia, atau setidaknya distro Linux 'buatan' komunitas IT Indonesia. Untuk diagram sejarah perkembangan asal-usul distro GNU/Linux Indonesia, bisa dilihat di situsnya Mas Made. Berikut ini daftar distro Linux Indonesia yang sempat dirilis (beberapa link mungkin down):
Kita mengenal virus sebagai ancaman terhadap komputer kita, namun sesungguhnya virus hanyalah salah satu bentuk dari apa yang disebut malware. Malware, secara umum, adalah program yang bersifat merusak komputer. Malware dibagi atas: virus, worm, trojan horse, spyware, backdoor, dan dialer/downloader.
Kesadaran akan hak cipta atau kekayaan intelektual (HaKI) khususnya di bidang komputer/informatika di Indonesia sudah mulai nampak. Masih segar di ingatan kita gonjang-ganjing seputar diberlakukannya UU Hak Cipta tahun 2003 yang lalu yang diikuti aksi sweeping di warnet-warnet. Beberapa aksi penangkapan terhadap pelaku pembajakan dan pengguna perangkat lunak bajakan yang sempat disidangkan cukup memberikan efek kejutan (shock therapy) bagi masyarakat Indonesia, khususnya pengguna komputer yang selama ini terbiasa menggunakan perangkat lunak tanpa memperhatikan kehalalannya.