Salah satu berita terhangat di tahun 2002 adalah dibentuknya United Linux, sebuah 'keroyokan' antara empat vendor distro Linux, yaitu SuSE, Caldera, Conectiva, dan TurboLinux. Konon, pada awalnya dua vendor lain RedHat dan Mandrake juga sempat diajak ikut serta, namun dengan pertimbangan tertentu, keduanya menolak. Tujuan United Linux adalah 'Membuat distro Linux yang standar dan sesuai dengan kepentingan bisnis'. Seperti yang kita ketahui, adaptasi Linux di dunia korporat sedikit terhambat akibat dua hal: kurangnya dukungan teknis (yang jelas), dan kurangnya standarisasi di antara distro-distro Linux yang ada, terutama dalam soal tools konfigurasi seperti YaST di SuSE, Lisa di Caldera, HardDrake di Mandrake, atau LinuxConf di RedHat. Dukungan untuk UnitedLinux pun bermunculan dari vendor hardware/software komersial seperti AMD, IBM, Fujitsu-Siemens, HP-Compaq, Intel, NEC, Borland, Progress, dan SAP.
Perkembangan sistem operasi Linux di Indonesia, terutama sejak milenium baru banyak melahirkan distro-distro berbahasa Indonesia, atau setidaknya distro Linux 'buatan' komunitas IT Indonesia. Untuk diagram sejarah perkembangan asal-usul distro GNU/Linux Indonesia, bisa dilihat di situsnya Mas Made. Berikut ini daftar distro Linux Indonesia yang sempat dirilis (beberapa link mungkin down):
Kita mengenal virus sebagai ancaman terhadap komputer kita, namun sesungguhnya virus hanyalah salah satu bentuk dari apa yang disebut malware. Malware, secara umum, adalah program yang bersifat merusak komputer. Malware dibagi atas: virus, worm, trojan horse, spyware, backdoor, dan dialer/downloader.
Kesadaran akan hak cipta atau kekayaan intelektual (HaKI) khususnya di bidang komputer/informatika di Indonesia sudah mulai nampak. Masih segar di ingatan kita gonjang-ganjing seputar diberlakukannya UU Hak Cipta tahun 2003 yang lalu yang diikuti aksi sweeping di warnet-warnet. Beberapa aksi penangkapan terhadap pelaku pembajakan dan pengguna perangkat lunak bajakan yang sempat disidangkan cukup memberikan efek kejutan (shock therapy) bagi masyarakat Indonesia, khususnya pengguna komputer yang selama ini terbiasa menggunakan perangkat lunak tanpa memperhatikan kehalalannya.