20 Tahun Perangkat Lunak Bebas: Popularitas atau Kemerdekaan ?
Sebuah artikel yang ditulis oleh Richard M Stallman pada tanggal 5 Januari 2004 menandai 20 tahun pergerakan perangkat lunak bebas (free software). Dlam tulisan itu, Richard (RMS) mengakui bahwa cita-citanya untuk menulis sebuah sistem operasi yang sepenuhnya bebas (GNU) belumlah tercapai. Sebenarnya, sistem operasi GNU cuma kurang satu komponen, yang sayangnya sangat vital, yaitu kernel (inti) sistem operasi. Kernel yang disebut HURD ini mulai dikembangkan tahun 1990, dan sampai sekarang belum juga siap digunakan karena kurangnya dukungan pengembang sehingga banyak bug yang masih ada. Di sisi lain, sebuah sistem operasi yang memanfaatkan sistem GNU yang digabungkan dengan kernel yang disebut Linux, sehingga populer dengan sebutan GNU/Linux (atau cukup Linux saja) berkembang dengan pesatnya, dari projek pribadi seorang Linus Torvalds menjadi sebuah sistem operasi yang menantang dominasi Microsoft.
Perkembangan sistem operasi Linux di Indonesia, terutama sejak milenium baru banyak melahirkan distro-distro berbahasa Indonesia, atau setidaknya distro Linux 'buatan' komunitas IT Indonesia. Untuk diagram sejarah perkembangan asal-usul distro GNU/Linux Indonesia, bisa dilihat di situsnya Mas Made. Berikut ini daftar distro Linux Indonesia yang sempat dirilis (beberapa link mungkin down):
Kita mengenal virus sebagai ancaman terhadap komputer kita, namun sesungguhnya virus hanyalah salah satu bentuk dari apa yang disebut malware. Malware, secara umum, adalah program yang bersifat merusak komputer. Malware dibagi atas: virus, worm, trojan horse, spyware, backdoor, dan dialer/downloader.
Kesadaran akan hak cipta atau kekayaan intelektual (HaKI) khususnya di bidang komputer/informatika di Indonesia sudah mulai nampak. Masih segar di ingatan kita gonjang-ganjing seputar diberlakukannya UU Hak Cipta tahun 2003 yang lalu yang diikuti aksi sweeping di warnet-warnet. Beberapa aksi penangkapan terhadap pelaku pembajakan dan pengguna perangkat lunak bajakan yang sempat disidangkan cukup memberikan efek kejutan (shock therapy) bagi masyarakat Indonesia, khususnya pengguna komputer yang selama ini terbiasa menggunakan perangkat lunak tanpa memperhatikan kehalalannya.